>
you're reading...
Uncategorized

Apa itu critical limit (batasan kritis) dan rentetan konsekuensi (train of consequences)??


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[==Sebelum memulai blog ini yang berisi pandangan hidup (sifatnya tidak eksak) yang ada di “about me”saya, maka saya akan menggarisbawahi bahwa semua yang ada ditulisan ini adalah rangkuman pengetahuan dari beberapa sumber lisan dan tertulis; sumber primer, sekunder dan tersier; yang diolah kembali dengan bahasa sendiri yang lebih universal serta hanya berdasarkan ingatan di otak tanpa membuka teks. Jadi harap maklum ya..hehehe==]

Banyak hal dalam kehidupan ini setelah melalui tahapan fase peradaban, beberapa hal sudah dibakukan dalam suatu standarisasi. Pengetahuan tentang kebenaran baik & buruk, benar & salah tersebut bisa saja diperoleh dr petunjuk atau wahyu, namun dapat pula diperoleh dari pengalaman sejarah manusia. Dari semua hal tersebut maka tercipta nilai – nilai dan aturan yg dibakukan bahkan sampai sangat mendasar sekali, yaitu hukum agama dan hukum positif (duniawi).

Tetapi karena sifat manusia yg suka menguji atau mempertimbangkan segala sesuatu mana yg mengenakan mana yang tidak enak bagi jiwa, maka kita mulai membuat suatu range atau rentang jarak antara yg boleh dan tidak boleh sama sekali.

Titik boleh I_______________I Titik tdk boleh (critical limit)

rentang kompromi (grey area)

 

 

Boleh dikatakan sikap kompromi dalam artian masih dalam koridor tertentu. Maklum kebanyakan dari manusia tidak bisa hidup dalam batasan hitam atau putih, kita memang lebih suka hidup di daerah abu – abu, yang sebenarnya akan terjadi dualisme sikap atau sering disebut standar ganda.

Jadi critical limit adalah suatu batasan kritis dimana bila dilewati akan menimbulkan konsekuensi berantai yang mungkin berefek simultan selama kurun waktu tertentu. Kecuali kalau kita segera mengambil langkah penyelesaian secara efektif & efisien, tanpa menunda. Istilahnya bayar harga. Itu juga kalau kita memang peka. Bukan berarti daerah abu – abu atau putih sekalipun tidak menimbulkan konsekuensi, tetapi efek dari konsekuensi yang terjadi masih bisa diminimalkan.

Bagaimana menentukan titik critical limit??

Saya kira bila nurani kita peka & belum buta, kita semua tahu dimana titik tersebut. Selain itu catatan-catatan sejarah, berbagai dokumen tertulis semua hukum-hukum, dokumen teknis dan ilmu pengetahuan, juga norma dan nilai yang sudah teruji sejak berabad-abad. Jadi siapa yang bilang mempelajari proses di masa lalu atau sejarah tidak penting, justru hal tersebut dapat menjadi proses pembelajaran kita semua dalam membentuk peradaban atau mengoreksi penyimpangan peradaban yang sedang kita jalani.

Kita percaya Causality Law (hukum sebab-akibat) & hukum tabur – tuai sangat berhubungan erat dengankonsep critical limit dan train of consequences (rentetan konsekuensi) , namun konsep ini lebih menjelaskan secara detail tentang batasan akan segala sesuatu hal.

Sedangkan hukum sebab-akibat dan tabur-tuai hanya menjelaskan selalu ada akibat atau tuaian dari semua sebab atau apa yang ditabur tanpa menjelaskan efek dari konsekuensi yang terjadi serta levelitas atau tingkatan permasalahan; artinya ada konsekuensi yang sifatnya ringan, sedang atau berat

 

Contoh mudah dimana saja titik critical limit dapat ditentukan :

1) Ketika kita merentangkan karet gelang, ada critical limit, dimana bila kita merentangkannya terus sampai batas tertentu maka dia akan putus.

Kerusakan dari hal ini biasanya bersifat irreversibel (tidak dapat diperbaiki). Memang masih bisa dikoreksi tapi tidak akan kembali seperti semula.

2) Ada batas aman kadar kolesterol dalam darah yang tidak boleh terlampaui yaitu 200 mg/dl, sebab kalau terlewati maka sudah pasti anda disebut penderita hiperkolesterolemia entah itu ringan, sedang atau parah.

Hal tersebut bila tidak segera ditangani atau dibiarkan berlarut – larut, mungkin dapat menyebabkan komplikasi yang lebih parah seperti jantung koroner, angina pektoris, stroke, dll. Efek dari konsekuensi pertama yang dibiarkan berlarut – larut atau tidak diketahui inilah yang disebut rentetan konsekuensi atau ”train of consequences”.

Pada tahap awal hal ini masih dapat dikoreksi dengan segera memperbaiki pola makan dan berolahraga teratur (non farmakologik), tetapi bila dibiarkan sampai terjadi komplikasi anda harus masuk ranah terapi farmakologik yaitu dengan obat – obatan atau bahkan sampai tindakan medis.

3) Saat terjadi infeksi bakteri atau mikroorganisme lain di dalam tubuhmu, bila leukosit (sel darah putih) lebih dr 10.000/mm3, itu artinya dia sudah tidak sanggup lagi memerangi mikroorganisme jahat di dalam tubuhmu, dia akan memberitahu otak supaya anda menjadi demam terus-menerus dan loyo, jadi anda tahu kalau sedang sakit.

Hal tersebut bila tidak segera ditangani (dengan antibakteri misalnya) & dibiarkan terus – menerus bisa membuat anda kehilangan nyawa.

4) Dalam industri farmasi pun mulai dalam proses riset dan penemuan sampai produksi sediaan obat (maupun makanan, minuman, dsb) hingga proses kontrol kualitas (quality control) pun menerapkan batasan kritis (critical limit) sehingga suatu produk layak dan aman untuk diedarkan berdasarkan standar yang berlaku (teman-teman seprofesi saya- Apoteker-yang sudah bertahun-tahun di industri kefarmasian bisa menjelaskan kepada anda secara lebih detil).

5) Ketika berpergian di jalanan luar kota di daerah-daerah yang memiliki sungai besar, dimana jembatan bisa mencapai panjang 500-1500 m, kita sering melihat batasan kritis tonase kendaraan yang boleh melewati jembatan tersebut.

Misal : “Jembatan ini hanya boleh dilewati kendaraan dengan bobot maksimal 8 ton”, ada juga yang 10 atau 15 ton.

Hal tersebut juga sering kita lihat di jalan-jalan tertentu. Ketika batasan tersebut dilanggar, maka saya percaya usia pakai suatu prasarana dan sarana akan lebih pendek dari perhitungan semula dan cepat rusak, bahkan lebih parah karena dapat menyebabkan bencana (efek dari rentetan konsekuensi). Sudah jamak kita mendengar jembatan yang runtuh yang memakan korban bukan karena pembangunannya yang tidak sesuai standar, tapi karena pelanggaran bobot muatan secara terus-menerus.
Hal tersebut hanya sebagian contoh, mungkin anda dapat menambahkannya lagi.

 

Jadi benarkah kita bisa toleran dan kompromi asal tidak melewati critical limit?? Tidak ada yang membenarkan hal tersebut. Sebenarnya konsep critical limit itu adalah usaha pembenaran akan ketidakmampuan manusia untuk dapat 100 % secara penuh untuk mengikuti apa yang dianjurkan atau yang seharusnya. Apa daya, sebagai manusia kita kadang sulit juga hidup tanpa cacat. Tapi hal itu sebenarnya tidak boleh menjadi alasan.

Apa yang tidak boleh, seharusnya ya tidak boleh; apa yang benar ya biarlah demikian adanya, jangan didegradasi (dihambarkan) lagi; apa yg putih ya biarlah tetap putih, karena seperti demikianlah yang dituntut dari kita supaya bisa disempurnakan.

 

Itulah sebabnya manusia, berdasarkan pengalaman dari periode sejarah atau wahyu dan ilham ilahi yang didapatnya, mulai mempelajari efek – efek dari rentetan konsekuensi; apakah efek tersebut bersifat reversibel (bisa diperbaiki) dan irreversibel (tidak bisa diperbaiki) dan mulai menetapkan dimana titik critical limit (batasan kritis) serta tidak lupa juga kita menetapkan rentang nilai normal (rentang kompromi).

Karena sesuatu yang jauh di bawah nilai normal (abnormal) pun menandakan ada kelainan yang harus segera dikoreksi agar kembali ke rentang normal, tapi fenomena ini jarang terjadi. Yang lebih sering terjadi dalam banyak kasus adalah pelampauan batasan kritis.

 

Semua ada waktunya, ada waktu anda menabur, ada waktunya anda menuai. Ada waktunya anda sekolah atau kuliah. Ada waktunya anda dapat penghasilan sendiri. Bahkan ada waktunya nanti anda mungkin terkena hiperkolesterolemia, hipertensi, dll, pd saat anda tidak produktif lagi (alias sdh tua bangka..he3x) & fungsi fisiologis tubuh anda sudah menurun (aus).

Bukankah kita sadari bersama gaya hidup instanisasi, hedonisme, dll, yg menyebabkan semua konsekuensi itu tidak pada waktu dan tempatnya. Karena itu ada dikatakan, semua itu akan indah pada waktunya.

 

Karena itu memahami konsekuensi yang mungkin timbul secara lebih dini membuat kita paham bagaimana harus mengambil pilihan dalam hidup & siap dengan segala konsekuensi yang ada tanpa harus menyalahkan siapa – siapa.

Atau malah yang lebih parah,meremehkan konsekuensi dan menganggapnya enteng, tidak apa-apa, lebih bagus seperti itu, tapi tunggu saja “the last hit” atau pukulan terakhir, saat kekuatan ego terbesar kita hancur lebur dan tidak mampu bertahan lagi, serta tidak akan pernah bangkit lagi. Jadi jangan anggap enteng rentetan konsekuensi.

Saya 100 % setuju dengan pendapat yang mengatakan berusahalah melakukan segala sesuatu secara maksimal, selalu mencoba, tetapi minimalkan resiko yang ada dengan segala cara yang anda bisa, dan sudah tentu jangan sampai melewati garis critical limit.

Jadi sekarang konsep mana yang anda gunakan, semua berpulang kepada anda sendiri, konsep critical limit atau konsep-konsep harga mati?

Yakinkah anda, bahwa anda dapat menerapkan konsep harga mati pada seluruh lini kehidupan anda?Bisakah anda se-perfect demikian?

 

Melemparkan suatu argumen tidak boleh tanpa memikirkan permasalahan yang mungkin timbul dan menyiapkan solusinya.
Pertanyaannya, adakah solusi bila titik critical limit telah dilanggar?

Pada efek reversible (dapat diperbaharui) & irreversible (tidak dapat diperbaharui), berusahalah untuk selalu mengambil solusi nomor 1 yang paling jitu dan juga benar dari semua sudut pandang. Ambil tindakan penyelesaian masalah dengan segera, menunda-nundanya hanya akan menambah permasalahan baru (rententan konsekuensi). Memang ada banyak kemungkinan penyelesaian masalah dari poin 1 sampai 5 misalnya, tetapi saran saya pilihlah penyelesaian nomor 1, yang paling benar, yang paling tepat, walaupun selalu ada resiko dari setiap keputusan. Namun keputusan yang tepat hanya menghasilkan kesulitan sementara, namun seterusnya perbaikan dan menang dari masalah secara benar.

Saya kira penerapan prinsip dari analisa SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, Threat), metode analisa paling terkenal tersebut akan sangat membantu kita menentukan keputusan yang tepat, serta prinsipanalisa ABC Pareto juga akan menentukan prioritas utama dalam penanganan. Terapkanlah ilmu itu dalam kehidupan sehari-hari, niscaya anda akan terlatih mengambil keputusan cepat dengan tingkat kesalahan minimal.

Memang pada kasus yang sifat efeknya irreversible akan sulit memperbaiki keadaan menjadi seperti semula (lihat contoh poin 1), hanya dapat diselesaikan dengan mengoreksinya saja, dengan artian memberikan fungsi yang baru padanya.

Contohnya seperti ban luar truk yang sudah tipis karena gundul, tidak mungkin lagi berfungsi seperti semula (walaupun masih bisa divulkanisir atau dilapisi), yang ada adalah berikan dia kegunaan lain seperti jadi ayunan anak, kursi meja, baskom dari karet.

Terkadang pada efek irreversible berlaku prinsip,“Apa yang dimulai salah, harus diselesaikan dengan salah juga, tetapi dengan meminimalkan risiko yang ditimbulkan, sehingga suatu permasalahan dapat diselesaikan dengan hasil yang didapat lumayan benar”. Dengan artian dapat kembali ke rentang normal.

Tapi saya meragukan efektifitasnya, karena berlakunya hukum sebab-akibat dan hukum tabur-tuai di dunia ini.

Pada kaum beragama, yang percaya adanya kekuatan Ilahi yang dapat menolong kita menghadapi pelampauan critical limit ini, sumber pengharapan yang dapat menghapus semua konsekuensi (akibat) yang terjadi atau memampukan kita melewati konsekuensi yang harus kita bayar dengan pertolongan kekuatan-Nya, dengan demikian DIA mendidik kita untuk menjadi manusia yang bertanggung jawab.

Beberapa mungkin menyanggah,“semua harga sudah ditebus-NYA dan dibayar lunas”, amin, saya setuju 100 %, tetapi pertanyaannya,“Adakah kita tidak akan menerima konsekuensi atau harga yang harus dibayar atas pelampauan critical limit, setelah kita mendapat pengetahuan tentang kebenaran-Nya yang bahkan sedari kita balita sudah diajarkan? Bukankah kirbat anggur baru itu diberikan kepada mereka yang sama sekali belum pernah mengenal kebenaran?”

Tolong bantu saya jelaskan hal ini seandainya anda paham.

Karena itu mintalah bantuan-NYA. Pada kasus yang irreversible, DIA mungkin akan memberikan fungsi baru bagi kita.

 

Demikian pemahaman akan ilmu pengetahuan yang dikombinasikan dengan cara pikir religi akan membawa anda pada keyakinan bahwa apa yang diajarkan kebenaran mutlak, adalah selalu benar.

Meskipun sulit untuk dilaksanakan, tapi konsep critical limit ini sangat berhasil. Setelah kita berhasil di konsep tersebut, barulah kita memikirkan untuk melaksanakan konsep harga mati (no compromise concept). Jadi jawabannya,”Ayo berjuang !!!”
Kesimpulan:

1) Ada beberapa hal yang tidak beresiko maupun yang menimbulkan resiko, namun konsekuensi dari resiko yang ditimbulkan berbeda-beda, baik itu ringan, sedang dan berat.

Tetapi pelampauan critical limit selalu menghasilkan train of consequences (rentetan konsekuensi)bila tidak segera diselesaikan.

2) Penentuan titik critical limit selalu berdasarkan dokumen sejarah, hukum-hukum dan nilai-nilai dari perkembangan peradaban yang sudah teruji.

3) Konsekuensi dari pelampauan critical limit dapat bersifat reversible (dapat diperbaiki) atau irreversibel (tidak dapat diperbaiki), namun berusahalah menyelesaikannya dengan pilihan penyelesaian nomor 1 dari semua pilihan yang ada.

4) Akan ada nilai rentang normal (rentang kompromi) yang muncul sebelum titik critical limit.

Namun saran saya, pilihlah titik kompromi yang minimal, yang masih jauh dari titik critical limit (lihat skema) agar konsekuensi yang dihasilkan juga ringan atau malah jangan berkompromi sama sekali. Perlu diingat, semakin sering anda berkompromi pada hal sama, maka semakin lama akan semakin bergeser mendekati titik critical limit dan beresiko melampauinya. Karena itu tegaskanlah hati anda, ketika anda memilih berkompromi, maka titik kompromi minimal anda jangan sampai bergeser. Sekali lagi, bila anda ingin lebih benar, maka jangan berkompromi sama sekali.

5) Konsep critical limit ini tidak sepenuhnya benar ataupun salah. Konsep ini dibuat sebagai tawar-menawar terhadap konsep harga mati (konsep tidak ada kompromi) yang sangat sulit dilaksanakan, jadi tidak disarankan untuk diikuti.

Jadi bagaimanakah anda berkata saya akan mengikuti konsep harga mati, sedangkan konsep critical limit pun tidak berhasil dilaksanakan; atau kemudian dengan frustasi mengatakan tidak ada tingkatan atau kadar kesalahan dari sesuatu hal, dengan kata lain tidak ada garis critical limit. Apakah semuanya sama saja? Tentu tidak kan.

6) Sangat disadari memang, konsep critical limit adalah konsep dari dunia eksak (ilmu pasti) yang dipaksaterapkan dalam kehidupan nyata yang bersifat relatif, karena titik critical limit dalam dunia nyata lebih mudah bergeser. Namun tak dapat disangkal kemudian, ketika aplikasi keseharian hukum fisika Newton tentang sebab-akibat sangat banyak mengilhami dunia nyata, maka demikian pun teori critical limit ini.

 

Ditulis sbg usaha intropeksi, pembaharuan serta menambah wawasan berpikir kita.

Terus terang, pemikiran tentang rentetan konsekuensi ini saya dapatkan setelah sekian lama terinspirasi oleh salah 1 lagu dari band metal MEGADETH dengan judul serupa yaitu Train of Consequences (albumYouthanasia,1994).

-Written by Niko Rusmedi-

 

 

For any further information or some question, please send email at : nikorusmedi@yahoo.com or just reply my blog.

 

Give your opinion my brother and sister cause i needed it.

Perhaps, my argumentation is absolutely wrong.

Thank you.

(supaya lebih jelas dan paham anda harus men-save dan baca sendiri)

About nikorusmedi

Apoteker, PNS, realistis, simpel tapi juga bisa amat ribet, pragmatis, penuh pengharapan (karena pengharapan suatu saat nanti semua keluarga dan orang yang aku kenal dapat berkumpul dalam kerajaan Sorga :) , dsbnya (udah aja deh daripada mulai ribet :p).

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

NIKO RUSMEDI

BUSSINESS LINK :

Cutieline-shop

Archives (Arsip)

Blog Stats (Jumlah Pengunjung)

  • 49,596 hits

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 2 other followers

%d bloggers like this: