>
you're reading...
Uncategorized

MEMPERTANYAKAN LABELISASI PSIKOLOGIS YANG TIDAK SEPENUHNYA TEPAT DAN CENDERUNG MENDISKREDITKAN


Beberapa banyak dari kita memang terkadang menyerap mentah-mentah apa yang dikatakan suatu informasi.

Hanya menyerap tesis yang ada tanpa memperhatikan bahwa ada juga anti-tesis terhadap hal tersebut.
Malahan anti-tesis sering diartikan sebagai sikap skeptis atau pesimis, padahal justru bisa dijadikanbahan koreksi dan pertimbangan.

Anti-tesis dibuat sebagai tandingan terhadap tesis yang ada, sehingga terjadi keseimbangan dalam memandang sesuatu hal.
Pada blog ini saya menguraikan anti-tesis terhadap tinjauan psikologis yang tidak sepenuhnya tepat mengenai hubungan hobi,selera dan pekerjaan dengan karakter (kejiwaan).

Demikian pula dalam dunia seni dan hiburan (entertainment), apakah itu film, musik, seni rupa, seni lukis; terjadi pengklasifikasian terhadap seni tersebut.

Termasuk juga dalam dunia olahraga dan pekerjaan.

Dalam film kita mengenal banyak klasifikasi; mulai dari action, horor, komedi, romantis, dll., yang masih memiliki sub-klasifikasi lagi.

Dalam musik pun kita akan mengenal aliran rock (beserta keturunannya seperti juga metal dan punk), pop, klasik, blues, jazz, hip-hop/rap, dangdut, R & B, gospel, arabian, techno-industrial, etnik, dll, yang masih terbagi lagi dalam genre sampai sub-genre.

Dalam seni rupa kita mengenal pahat, patung, tato, dll, (saya kurang paham untuk hal ini).

Dalam seni lukis kita mengenal aliran realis, surealis, abstrak, naturalis, dll.

Demikian juga dalam olahraga kita mengenal cabang-cabang olahraga mulai yang memakai otot hingga olahraga otak (catur, bridge), atau kombinasi keduanya.

Demikian juga pekerjaan memiliki banyak tipe.

Pertanyaannya, adakah hubungan yang sangat signifikan antara hobi, selera dan pekerjaan dengan karakter (kejiwaan) seseorang??

Mungkin ada tinjauan psikologis yang mengena, tetapi apakah signifikan??

Bukankah karakter (kejiwaan) seseorang adalah gabungan-gabungan secara acak (variabel acak) dari seluruh klasifikasi dan definisi psikologis tentang karakter??

Yang membedakannya hanyalah prosentase atau perbandingan dalam susunan gabungan karakter yang ada dalam diri seseorang berdasarkan definisi psikologis.

Jadi sekarang adakah hubungan yang benar-benar kental (signifikan) seseorang yang menyukai musik cadas (rock/metal/punk beserta turunan) atau seseorang menyukai musik rap/hip-hop (yang kadang banyak sumpah serapahnya) dengan karakternya sehari-hari?

Adakah seseorang tersebut lantas pasti kemudian berperilaku anarkis dan menyukai kekerasan, tegas, tidak berotak (idiot) dan tidak bijaksana, kemudian menjadi liar?

Kemudian apakah penyuka musik lembut akan menjadi orang yang rendah hati, setia, bijaksana, dan mampu mengontrol diri?

Pertanyaan saya, bagaimanakah dengan psikopat macam Ryan sang penjagal yang terlihat melankolis dan berwajah lembut, yang bahkan pernah sangat religius tersebut?

Demikian pula apakah penggemar film action (suspense thriller, horor, spy, epic, cowboy, collosal, superhero, dll.) lantas pasti menjadi pribadi yang keras dan anarkis?

Pertanyaannya lalu buat apa kita menonton The Matrix, X-Men, The Dark Knight, Lord of The Ring, Spiderman, The Passion of The Christ, Blade, Jason vs Freddy, Interview with Vampire, Van Helsing, dll, seandainya kita punya kecenderungan untuk meniru unsur kekerasan dan unsur-unsur/semangat jahat yang ada di dalamnya?

Lalu mengapa aktor laga macam Ronald Reagan (mantan presiden USA), Arnold ‘Suasanasegar’ (Gub.California) dan Dede Yusuf (wakil gub.JaBar) bisa terpilih?

Ataukah penyuka film komedi menjadi pribadi yang lucu juga?

Demikian juga penyuka film roman picisan murahan ala Hollywood, Bollywood atau anak negeri sendiri, apakah lantas menjadi pribadi yang penuh cinta kasih atau justru malah mempengaruhi otak kita jadi penuh hawa nafsu (cabul)?

Lalu lantas apakah harus dilarang? Tentu tidak kan, karena pasti banyak yang tidak setuju.

—-“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang menjadi dingin”—-

Atau apakah penyuka/atlet olahraga ekstrim macam bela diri, balap motor dan mobil, tinju, gulat, angkat besi, binaraga, dll., lantas pasti mempunyai pribadi yang keras, acuh tak acuh dan egois?

Bukankah malah pertandingan sepak bola (olahraga yang tidak dianggap ekstrim) yang justru sering menimbulkan fanatisme (holiganisme) dan kerusuhan berdarah?

Apakah lantas sepak bola harus dilarang? Tentu tidak kan, karena sudah pasti banyak yang protes.
Dan bahkan pertandingan olahraga skala kecil antar kampung pun berpotensi menimbulkan perkelahian.

Atau apakah mereka yang punya pekerjaan berat dan berbahaya macam di kontruksi, militer, pengamanan masyarakat, dll, lantas pasti berpribadi keras, egois dan anarkis?

Lantas mengapa banyak dari anak bangsa ini lebih memilih pemimpin berlatar belakang militer?

Atau seorang yang bertato, body pierching/anting dimana-mana (walaupun saya tidak punya) lantas pasti menjadi seseorang yang keras, rusuh, amburadul, anti sosial, pendosa jahanam?

Tidakkah kita tahu beberapa rohaniawan dan spesialis penyanyi rohani memiliki tato besar maupun kecil di tubuhnya, termasuk Franky Sihombing itu yang mungkin kita sukai.

 

Pada akhirnya kita tidak bisa mendiskreditkan/menjelekkan profesi atau pekerjaan lain semata-mata karena tidak sevisi atau seide dengan kita, selama yang mereka lakukan adalah halal dan bukan dosa.

Jadi bisakah kita mempermasalahkan musisi dan seniman tertentu, atlit olahraga keras/ekstrim, actor/actress film action dan horor, dll.; sedangkan dari situlah mata pencaharian dan penghidupan mereka?

Haruskah seluruh dunia ini sama, haruskah semuanya bekerja di sektor formal, yang belum tentu semua penghasilan kita diperoleh dengan murni?
Pemberian label atau “labelisasi psikologis” adalah kecenderungan manusia. Ketika kita sudah memberi label negatif terhadap seseorang, maka di mata kita orang tersebut tidak ada positifnya lagi(kecuali orang tersebut sudah benar-benar sinting dan tidak bisa dikembalikan ke rentang normal), padahal label negatif yang kita berikan belum tentu sesuai kenyataan yang ada (cenderung sering tidak berdasar, lebih ke arah emosional semata).

Pernahkah kita mengecek atau konfirmasi secara langsung dengan orang yang kita beri label untuk menanyakan kebenarannya?

Tidak dipungkiri labelisasi negatif akhirnya menimbulkan stigma negatif pula, suatu proses labelisasi dalam skala besar.

Stigmatisasi negatif ini berbahaya, karena menimbulkan kecurigaan dan pendakwaan permanenterhadap kelompok, kaum, negara tertentu, yang dapat menyebabkan perselisihan, kerusuhan dan perang.

Selanjutnya, si pemberi label mungkin akan kehilangan kemampuan sosial (acuh tak acuh) dalam bekerja sama dengan semua pihak, terutama orang yang diberinya label; muncul kebencian yang menggerogoti jiwanya sendiri yang sebenarnya tidak perlu; emosi dan timbul iri dengki ketika akhirnya orang yang dilabelinya mendapat kesempatan dari Tuhan untuk mampu melakukan hal-hal yang lebih besar daripada dirinya sendiri, sedangkan orang yang diberi label (negatif) mungkin tidak memiliki beban yang berarti terhadap label tersebut daripada sang pemberi label.

Nah, buat yang diberi label entah itu positif atau negatif, terimalah saja hal tersebut.

Bahkan bila kita diberikan label terburuk sekalipun, jika kenyataannya memang demikian, jangan takut, buat apa ditolak mati-matian (buang-buang energi saja), supaya jangan kita menjadi orang yang munafik dan pendusta (hanya saja kita berhak melakukan klarifikasi dengan cara yang bijak; kecuali jika memang label tersebut benar-benar salah, maka anda punya hak jawab dan melakukan konfirmasi).

—-“Hendaklah bila ya, katakan ya, bila tidak, katakan tidak, lebih dari itu adalah berasal dari yang jahat”—-

Yang ada lakukanlah perubahan, kerjakanlah hal-hal positif, jadikanlah labelisasi negatif tersebut sebagai intropeksi, bermimpilah sesuai apa yang layak bagi kita dan yang realistis untuk bisa kita diraih (mimpi tanpa usaha=sia-sia); niscaya si pemberi label akan menyesali perkataannya atau hancur sendiri seperti katak ditimpa tempurung (bukan lagi katak dalam tempurung) karena otaknya terlalu penuh pikiran negatif (lama-lama bisa jadi gila).

—-Sebagai catatan, hanya sedikit orang yang suka memberi label negatif (termasuk gosip atau isu)namun tidak kehilangan kemampuan sosialnya dan tetap mampu bekerja sama dengan orang yang diberikannya label negatif, selebihnya akan berdampak sebaliknya. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal memang perlu label, tetapi dalam hal labelisasi psikologis (cakupan label positif atau negatif) perluberhati-hati dan disikapi dengan bijakKarena tidak ada seseorang yang sepenuhnya negatif dalam segala hal, pasti tetap ada sisi positifnya, kecuali memang itu orang gila, psikopat kompleks, schizoferenia kompleks, dan penyakit kejiwaan lainnya, yang tidak bisa disembuhkan lagi—-
Sebagai gambaran, perang psikologi (dalam hal saling melabeli) adalah fenomena lawas yang tidak dapat terhindarkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama sangat kental di dunia politik.

Sebagai contoh, negara maju mengecap negara lain dengan sebutan sarang teroris, peringkat paling korup, miskin, tidak punya etos kerja, dll, bahkan yang lebih parah sampai ke tingkat travel warning (larangan perjalanan) dan embargo.

Sedangkan negara berkembang dan negara-negara dunia ketiga ganti melabeli negara maju dengan sebutan perusak moral dunia, imperialis (penjajah), berstandar ganda, negara pembunuh, penyumbang terbesar dalam efek pemanasan global, dll, bahkan sampai tindakan ekstrim seperti pendudukan kedutaan besar, pelarangan penggunaan produk negara tertentu, sampai menasionalisasi paksa perusahaan asing.

Jadi labelisasi psikologis harus disikapi dengan bijak karena bisa berakibat baik atau pun buruk bila tidak sesuai kenyataan.
Kita harus menghargai ilmu psikologi yang ada, karena pengetahuan itu memang didapat secara khusus (altruistik).

Namun segala macam klasifikasi (penggolongan) dan definisi psikologi hanya memberikan gambaran secara garis besar (ilmu yang tidak pasti).

Determinasi (penentuan) psikologis seseorang lebih banyak mengarah kepada pola kecenderungan dalam berperilaku dan itu tidak bisa hanya diukur dari hobi, selera, bakat, minat dan pekerjaan seseorang semata.

Ada banyak faktor utama mulai dari lingkungan, pola asuh, religi/dogma/doktrin, bawaan genetik, dsb, yang mempengaruhi garis besar kecenderungan psikologis seseorang.
Sebagai perbandingan, tidak dapat disangkal, saya teringat suatu penelitian yang dilakukan terhadap tanaman muda dalam suatu ruangan dengan sarana pendukung kehidupan yang cukup, yang diperdengarkan secara terus-menerus musik metal dan musik klasik.

Tanaman muda yang diperdengarkan musik metal secara terus-menerus tersebut tidak dapat tumbuh dengan sempurna, sedangkan yang diperdengarkan musik klasik tumbuh dengan sempurna.

(Perlu diingat, sampel yang digunakan adalah tanaman muda, bukan tanaman dewasa yang sudah matang).

Tapi kemudian saya teringat ketika pernah dilakukan penelitian lain di Inggris terhadap anak muda yang mengandrungi musik rock/metal, ternyata didapatkan hasil dalam prosentase besar bahwa pengaruh musik tersebut tidak membawa dampak terhadap penurunan prestasi dan kemampuan berpikir dalam belajar dan bekerja, tapi justru anak muda tersebut memiliki daya tahan yang lebih tinggi dibanding sebayanya dalam menghadapi tekanan berat,memiliki semangat juang yang baik (walau tidak semuanya).

Karenanya ada ballada, soft dan heavenly rock buat pengeduran-cooling down-(penyeimbang).

Tentunya tidak mungkin penelitian barat ini disponsori oleh industri musik rock/metal yang kurang komersil itu kan?

Sudah pasti obyek yang diteliti tersebut dipilih secara acak.

Itulah bedanya manusia yang punya akal budi dibanding tanaman yang bahkan insting/naluri pun tidak punya.
Karena itu saya setuju bila janin dan balita harus diperdengarkan musik teknikal tinggi yang lembut macam musik klasik bertempo lambat, smooth jazz (musik rohani juga) untuk merangsang otaknya tumbuh dengan sempurna.

Mereka jangan dahulu diperdengarkan musik-musik tipe cadas, techno-industrial, rap/hip-hop, etnic, dangdut ataupun pop (pop tidak ada unsur teknik dan keilmuannya, remeh-temeh, hanya dicerna layaknya kacang garing saja), karena memang belum waktunya mereka bisa memaknai sisi positif dari suatu materi.

Ketika beranjak remaja, dimana gempuran informasi ditambah jiwa muda, menyebabkan mereka mencari tahu akan segala hal, termasuk musik, disinilah bimbingan orang tua diperlukan.

Tidak perlu khawatir seandainya anak anda, adik atau keponakan mulai menyenangi musik-musik cadas, techno-industrial (disebut juga musik house), pop, etnic, rap/hip-hop, atau bahkan dangdut (yang sering dituduhkan sebagai musik orang yang terlalu pasrah, lemah dan menurunkan kemampuan berpikir dan berusaha).

Yang penting disini adalah bimbingan (parental advisory).

Saya seandainya memiliki balita pun tidak akan memperdengarkan musik lain selain klasik bertempo lambat, smooth jazz, smooth instrumental dan gospel kepada anak saya sebelum cukup usia.

Balita dan anak dibawah umur memang harus dihindarkan dari tontonan kekerasan dari film action (film kartun sekalipun yang mengandung unsur kekerasan) dan tontonan olahraga ekstrim/keras karena mereka punya kecenderungan meniru yang lebih besar daripada orang dewasa, serta belum mengerti tentang sebab-akibat, tabur-tuai dan critical limit (batasan kritis).

 

Demikian juga dalam kehidupan berjemaat, memang seorang “bayi” (seseorang yang baru bertumbuh) harus diberi “makanan ringan atau susu” (yang hanya menyenangkan bagi jiwa), tetapi kalau diberi susu terus atau anti dengan “makanan keras”, kapan seseorang bisa tumbuh dan mengerti bagaimana yang seharusnya, bukankah dia harus menjadi besar, dewasa dan kuat.

Jadi “makanan keras” diperlukan untuk melatih pancaindera dan mendapatkan pemahaman dan pengertian yang sesungguhnya, meskipun demikian bukan berarti seorang dewasa tidak boleh lagi menerima “makanan ringan atau susu” terutama saat sedang “sakit” (see Hebrews 5:13-14).
Juga tak dapat disangkal musik-musik rumit (hard listening) macam rock/metal, jazz dan klasik menghasilkan banyak teknik tinggi dalam musik; terlebih musik rock yang sangat mengutamakan eksplorasi skill dan sound.

Sudah jamak diketahui, baik gitaris, drummer, bassist, keyboardist musik rock/metal berdasarkan polling (jajak pendapat) selalu menduduki urutan teratas dari musisi berpengaruh dalam dunia musik (ukurannya skill, bukan komersil).

Dan bahkan teknologi sound yang berkembang pesat sejak era 80-an sangat dipengaruhi oleh musik rock/metal, juga kebutuhan sound film action.

Sangat diketahui bahwa gitaris rock/metal membutuhkan rangkaian pedal efect (analog-stompbox maupun digital) yang sangat banyak untuk menghasilkan banyak karakter sound, demikian pula drummernya membutuhkan settingan drum yang lebih lengkap dibanding yang dipakai musisi aliran lain.

 

Tak dapat disangkal jika film-film keras/action membutuhkan dana jutaan dolar dalam pembuatannya dibandingkan film dari jenis lain.

Perkembangan spesial efek yang sangat pesat sekarang justru berkembang pesat karena adanya film-film action ini.

Bayangkan revolusi dalam teknik pengambilan gambar (pengkameraan) yang dipadu dengan spesial efek dalam komputer seperti The Matrix, Mission Impossible, dll, menghasilkan perubahan dalam teknologi visual masa kini.

Dan justru ketika menonton film action, kita dapat memperoleh informasi teknologi-teknologi terbaru maupun teknologi militer terkini.

Mungkin anda sudah tahu, bahwa internet saat ini merupakan pengembangan teknologi militer dan spionase yang lahir sekitar 1975-an.
Tak dapat disangkal semangat kompetisi dalam olahraga keras (juga akibat militerisasi) macam balapan menghasilkan percepatan pengembangan teknologi mesin berkecepatan tinggi yang sudah melebihi kecepatan suara, sebagai akibat dari ketertarikan manusia pada sesuatu yang namanya “kecepatan”, suatu hal yang dianggap berbahaya (sekarang manusia sedang memikirkan kecepatan cahaya).

 

Saya memang menaruh penghargaan dan antusiasme tinggi terhadap orang-orang menghabiskan waktunya dengan tekun demi yang namanya eksplorasi (dalam semua bidang).


Intinya
, seseorang tidak akan dapat mengerti, merasakan keindahan dan betapa mengasikannya sesuatu hal bila ia tidak terjun mendalami serta memainkannya (peranan).

Letupan emosi bahagia yang luar biasa menggemuruh di dada, ketika anda berhasil menguasai teknik yang sulit dan mensinkronisasikannya dalam kerjasama kelompok, memecahkan dan mengeksplorasikan tantangan yang baru dan sulit, benar-benar luapan perasaan yang mengharu-biru.

Karena itu hindarkanlah saling mendiskreditkan hanya karena masalah perbedaan visi, misi dan pedoman atau perbedaan karakter (kejiwaan) selama masih ada nilai positif masing-masing yang bisa digali.

Jadi, apakah sikap hidup dan perilaku, karakter (kejiwaan) sepenuhnya dipengaruhi oleh hobi, selera, minat, bakat dan pekerjaan?

Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Namun sudah pasti kelompok yang tidak adalah ± 80 % (menurut pendapat pribadi).

Dan seandainya pun iya, berarti itu sisa, hanya oknum dan suatu kebetulan belaka serta bukan faktor penyebab utama.

Intinya, yang harus kita bedakan adalah apakah sesuatu itu benar atau salah, dosa atau tidak, baik atau buruk; dengan catatan harus didasarkan pada konsep critical limit (batasan kritis).

Sebagai pembanding, faktor utama penyebab kekerasan adalah :

1) Lingkungan

Tinggal di daerah yang rawan tindakan kekerasan semacam pasar atau pelabuhan.

2) Kondisi sosio-kultural

Beberapa anak bangsa di wilayah nusantara atau wilayah lain di dunia ini memiliki tradisi yang memang keras.

3) Bawaan genetik (keturunan)

Seseorang yang punya sifat keras kemungkinan besar akan menurunkannya pada anak.

4) Kesejahteraan kurang (ekonomi)

Manusia, bila sudah kenyang dan kebutuhannya tercukupi (sejahtera), jarang berpikir untuk anarkis.

5) Psikologis massa.

Massa yang berkumpul dalam jumlah banyak cenderung mudah untuk terprovokasi melakukan kekerasan, disebabkan munculnya perasaan superior terhadap kelompoknya.

6) Naluri alamiah dasar yang tidak terkontrol

Memang ada kecenderungan pada usia yang lebih muda (sedikit menurun pada usia dewasa), tetapi bukankah seluruh kaum muda (bahkan manusia) memiliki potensi untuk melakukan kekerasan.

7) Perbedaan kepentingan.

Saling beradunya keinginan masing-masing karena perbedaan kepentingan bisa menyebabkan kekerasan, dalam skala global bisa terjadi perang, kerusuhan, dll.

8 ) Kompetisi tidak sehat.

Misalnya, persaingan ini dapat muncul karena menipisnya sumber mata pencaharian serta merosotnya sumber daya alam dan energi, bencana alam dahsyat, sehingga menyebabkan perebutan dan invasi.

9) Pola asuh yang salah.

Peran keluarga sangat penting dalam pembentukan karakter seseorang.

10)Religi/dogma/doktrin/pedoman

Faktor ini juga berpotensi besar menimbulkan kekerasan bila terjadi salah interpretasi dan diterjemahkan keliru.

11) …………(silahkan anda tambahkan sendiri)
Demikianlah tulisan ini ditulis sebagai usaha intropeksi, menambah wawasan dan mengajak berpikir bersama dengan kalimat-kalimat pertanyaan.

Terus terang, ketika saat-saat tertentu kesadaran saya sedang menurun (misalnya emosi), terkadang saya secara tidak sengaja juga bisa memberikan label negatif, walaupun itu memang sesuai kenyataannya (beda kalau lagi bercanda lho ya), tapi seharusnya tidak boleh dan sering saya sesali kemudian. Harap maklum bila ada penggunaan kata, pengertian atau istilah yang penempatannya salah, karena ditulis tanpa melalui pendalaman materi dan proses editing, hanya berdasarkan ingatan.

 

—-Written by Niko Rusmedi (NR)—-

YHWH bless us.

About nikorusmedi

Apoteker, PNS, realistis, simpel tapi juga bisa amat ribet, pragmatis, penuh pengharapan (karena pengharapan suatu saat nanti semua keluarga dan orang yang aku kenal dapat berkumpul dalam kerajaan Sorga :) , dsbnya (udah aja deh daripada mulai ribet :p).

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

NIKO RUSMEDI

BUSSINESS LINK :

Cutieline-shop

Archives (Arsip)

Blog Stats (Jumlah Pengunjung)

  • 49,596 hits

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 2 other followers

%d bloggers like this: