>
you're reading...
Uncategorized

Wacana Penggunaan Metode Hipnotisme Dalam Hukum untuk Pembuktian Tindak Kejahatan. Mungkinkah dilakukan?


25/02/2011

Beberapa waktu yang lalu saya sering mendengar pembicaraan di masyarakat tentang apakah metode hipnotisme dapat dilakukan untuk pembuktian suatu tindak kejahatan dalam masalah hukum, misalnya pada kejadian suatu kejahatan dengan bukti yang minim, bukti dihilangkan/hilang, atau tidak ada bukti sama sekali. Mungkin pikiran masyarakat tersebut muncul karena sering melihat acara hipnotis di televisi (Stage hypnosis = hiburan hipnosis bagi penonton). Menurut saya hal tersebut adalah ide yang menarik untuk dipelajari bagaimana mekanisme serta keuntungan dan kelemahan metode hipnotis dengan bahasa sederhana saya.

 

Sejarah Hipnotis

Praktik-praktik hipnotis pada awalnya dikenal sebagai teknik meditasi dari Timur (oriental). Praktik-praktik hipnotis yang dilakukan kini memiliki kesamaan dengan berbagai bentuk meditasi yoga oleh agama Hindu dan praktik-praktik spiritual kuno, seperti yang dideskripsikan oleh tulisan Persia kuno tentang berbagai macam ritual agama dan ritual penyembuhan yang dilakukan di Timur.

Dalam tulisannya di “Kekuatan Pikiran di atas Kekuatan Jasmani”, walaupun James Braid menentang dalil-dalil kepercayaan pada fenomena ini, namun tulisannya menunjukkan bahwa meditasi dari Timur menghasilkan efek-efek hipnotisme dalam kesendirian, tanpa hadirnya seseorang yang menghipnotis, sehingga ia melihatnya sebagai bukti bahwa hipnotisme terdapat dalam praktik-praktik kuno meditasi dan bukan dari teori-teori moderen maupun praktik aliran mesmerisme(Sumber : sekilas tentang mesmerisme). Istilah hipnosis pertama kali dicetuskan oleh James Braid pada tahun 1843.

 

 

Beberapa Definisi Tentang Hipnosis dan Hipnotis

Hipnotisme adalah suatu fenomena yang menyebabkan tidur secara buatan, yang mengakibatkan sang korban/subjek hipnotis secara tidak normal dapat terbuka untuk mengikuti saran/sugesti; subyek hipnosis cenderung untuk didominasi oleh ide-ide dan saran-saran dari yang menghipnotis, ketika diinduksi dengan sugesti atau sesudahnya.

 

Hipnotisme sendiri dipisahkan dalam 2 pengertian :

1.  Hipnosis

 

 

 

  • Hipnosis adalah suatu kondisi mental (menurut state theory) atau diberlakukannya peran imajinatif (menurut non-state theory), biasanya disebabkan oleh prosedur yang dikenal sebagai induksi hipnosis, yang umumnya terdiri dari rangkaian panjang instruksi awal dan  sugesti.
  • Hipnosis adalah keadaan seperti tidur karena sugesti, yang pada taraf permulaan orang itu berada di bawah pengaruh orang yg memberikan sugestinya, tetapi pada taraf berikutnya menjadi tidak sadar sama sekali.
  1. 2.  Hipnotis

 

 

  • Hipnotis (bahasa Inggris : hypnotist) adalah kegiatan oleh seseorang yang melakukan proses hipnosis (memberikan sugesti) terhadap subjek.
  • Hipnotis adalah membuat atau menyebabkan seseorang berada dalam keadaan hipnosis.

Tingkatan Hipnosis

Sub Hipnotis, Hipnotis Penuh, dan Koma Hipnotis

Kedalaman skala hipnosis : hipnosis rendah, hipnosis medium, dan hipnosis tinggi.

Proses Sederhana Hipnotis

  1. Klien/subjek (orang yang dihipnotis) harus bersedia atau tidak menolak untuk dihipnotis. Pada beberapa kasus hipnotis untuk tujuan jahat, subjek yang dihipnotis kadang tidak sadar bahwa dirinya dihipnotis (tingkat sub hipnotis) walaupun tidak sampai tertidur.
  2. Menggunakan bahasa yang dimengerti.
  3. Hipnotisian (orang yang menghipnotis) harus percaya diri.
  4. Melalui induksi – induksi hipnotis dan induksi itu sendiri ada bermacam-macam, misalnya menggunakan jam bandul, tisu yang dibakar, lingkaran berpentuk spiral yang berputar menuju suatu titik, dan lain-lain; yang intinya membawa kesadaran seseorang ke posisi trance/memasuki alam bawah sadarnya.

 

 

 

Berbagai Kontroversi Tentang Hipnotisme

1. Dari sudut saintis/ ilmuwan

Para ilmuwan berusaha memperluas analogi (persamaan makna) tentang hubungan antara hipnosis, aliran mesmerisme, dan sihir. Dan bahkan mereka menghubungkan hipnotisme dengan agama; bahwa agama berisi orang-orang yang mudah percaya, mudah didoktrinasi, dan mudah disetir pikirannya oleh para pemimpin agama. Hal ini mungkin berkaitan dengan ekstrimisitas dan histeriadalam beragama.

Seorang psikolog E.M. Thorton (1976) menekankan bahwa subyek yang dihipnotis pada dasarnya diminta untuk “menuju kondisi seperti pasien epilepsi ditirukan seperti sebuah parodi”. Apabila subyek terlihat seperti kerasukan, maka hal ini diakibatkan karena kondisi kerasukan melibatkan konteks yang mirip secara sosio-kognitif, layaknya seseorang yang menerima peran yang diberikan kepadanya dan merasakan hubungan antara yang meminta dan diminta. Bagaimanapun hipnosis dilakukan, pada dasarnya hipnotisme, aliran mesmerisme, histeria, dan kerasukan setan memiliki dasar yang sama dimana konstruksi sosial dirancang oleh pelaku terapi yang antusias akan hal ini yaitu pelaku pertunjukan (showmen/hypnotistcian) dan pendeta-pendeta atau pelaku ritual agama pada satu sisi, dan di sisi lain ada orang-orang yang mudah percaya, penuh imajinasi, penuh kesediaan, diikuti dengan kebutuhan emosional yang tinggi akan kemampuan orang lain untuknya.

2.     Dari sudut agamawan atau orang-orang beragama.

Kontradiksi terhadap hipnotisme oleh kalangan agamawan sering muncul dari agama-agama yang mempercayai adanya unsur (atau kita sebut saja roh) baik melawan unsur jahat, terutama dalamagama-agama Samawi (Yahudi, Islam, Kristen) (Sumber : Agama Samawi).

Banyak agamawan mengganggap proses hipnotisme ini melibatkan bantuan roh-roh jahat dalam proses sugestinya. Kegiatan ini mungkin disamakan dengan mengisi roh setan ke dalam tubuh seseorang sehingga kehilangan kesadarannya (atau masuk ke dalam alam bawah sadar) bukan karena proses normal (misalnya tidur), bahkan mungkin dianggap salah satu bagian dari sihir putih (white magic). Proses hipnotis juga sering disamakan dengan kegiatan pelepasan roh dari tubuh, yang juga dianggap telah dintervensi atau dibantu roh jahat.

Bagaimana Penerapan Metode Hipnotisme dalam Pembuktian Tindak Kejahatan?

Penerapan metode yang saya maksudkan ini adalah pendapat pribadi sebagai masukan bagi kemungkinan penyelesaian masalah hukum di masa mendatang, mungkin ada praktisi hukum yang ingin memasukkannya ke dalam Undang-Undang.

Berdasarkan penjelasan sebelumnya di atas, dapat saya simpulkan bahwa metode pembuktian tindak kejahatan dengan metode hipnotisme dapat dilakukan dengan langkah – langkah sebagai berikut :

 

  1. Penegak hukum membuat daftar pertanyaan tertulis untuk proses interogasi setelah tersangka/tergugat/terdakwa dihipnotis.
  2. Daftar pertanyaan ini wajib ditandatangani dengan meterai oleh tersangka/tergugat/terdakwa dihadapan minimal 5 saksi independen, juri atau pengacara yang bersangkutan sebelum dihipnotis. Tanda tangan ini menunjukkan persetujuan sang tersangka/tergugat/terdakwa bahwa yang bersangkutan bersedia dinterogasi melalui pikiran atau ingatan bawah sadarnya.
  3. Tersangka/tergugat/ terdakwa yang diduga melakukan tindak kejahatan dihipnotis untuk diinterogasi sesuai dengan daftar pertanyaan yang dibuat disaksikan oleh saksi, juri, atau pengacara yang bersangkutan.
  4. Untuk mengetes apakah tersangka/tergugat/ terdakwabenar-benar terhipnotis dapat digunakanRapid Eye Movement instrument atau alat pengetes kedalaman tidur lainnya.
  5. Selama proses interogasi dengan hipnotisme ini harus direkam secara audio dan audiovisual.
  6. Proses interogasi hipnosis ini harus diulang minimal 2 kali lagi dalam jangka waktu yang berbeda (misalnya berselang 1 minggu atau 1 bulan kemudian), namun daftar pertanyaannya harus sama dengan yang sebelumnya, hal ini untuk menjamin ketepatan dan kesesuaian jawaban dengan jawaban pada proses interogasi hipnosis sebelumnya. Apabila penyimpangan jawaban-jawaban tidak terlalu jauh, maka hasil rekaman hipnotis tersebut dapat digunakan sebagai bukti kuat untuk proses penuntutan selanjutnya.
  7. Dan jangan lupa, semua proses harus tercatat dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

Menurut saya, keuntungan metode hipnotisme dalam bidang hukum adalah :

 

  1. Mempermudah pembuktian hukum. Terutama apabila bukti-bukti standar lainnya tidak cukup, hilang/rusak, atau malah tidak ada.
  2. Biaya rendah. Tidak perlu lagi biaya operasional yang besar untuk penyelidikan maupun penyidikan.
  3. Kesaksian maupun pengakuan yang diperoleh mungkin lebih akurat. Metode ini mungkin lebih baik daripada metode pembuktian terbalik yang kurang masuk akal.

Sedangkan kerugian/hambatannya dalam bidang hukum yang saya pikirkan adalah :

  1. Belum ada peraturan atau Undang-Undang yang mengadopsi metode hipnotisme.
  2. Tentangan oleh agamawan konservatif.
  3. Interogasi alam bawah sadar masih diragukan, apakah jawaban tersebut benar-benar berasal dari pikiran/ingatan bawah sadar danbukan karena kerasukan/kemasukkan roh, pikiran histeria atau hanya imajinasi/khayalan seseorang yang tertanam saat dalam pikiran sadar.
  4. Penjara bakal penuh, harus ada penambahan penjara.

    Mengapa? Karena apabila setiap orang mencurigai atau membenci sesamanya dapat melapor/menggugat ke pihak yang berwajib untuk interogasi hipnosis.

    Dalam Undang – undang dan peraturan yang bejibun tersebut, pasti ada saja pasal yang bisa dikenakan kepada seseorang.

    Nih pasal-pasal yang mungkin favorit untuk ditanyakan/dikenakan : pencemaran nama baik, perbuatan tidak menyenangkan, hujatan terhadap SARA, transaksi informasi elektronik (ehem.. yang pernah liat pornografi bisa kena), korupsi (kecil-kecilan atau yang gede juga), kolusi, nepotisme, perbuatan asusila (ehem..yang pacarannya ganas bisa kena nih), pembunuhan (termasuk aborsi), pencurian (yang pernah nyuri duit ortu gimana ya ?), pembohongan publik, saksi dusta (fitnah) tentang seseorang, permufakatan jahat, dan banyak pasal lainnya deh yang bisa dikenakan, POKOKNYA BEJIBUN,atau mungkin pasal-pasal dalam UU Olahraga juga bisa membawa anda masuk hotel prodeo.

    Artinya, anda dan saya tidak terkena perkara hukum hanya karena beruntung.

     

  5. Bidang Hukum jadi primadona.

    Ya itulah..perkara gak habis-habis, duit masuk terus lah..(hehe..just kidding). Mahasiswa hukum tambah banyak, penegak hukum harus ditambah.

  6. Memperuwet masalah hukum.

    Bagaimana apabila tersangka/tergugat/terdakwa melakukan pra-peradilan (ataupun apalah namanya itu) terhadap penegak hukum atau kepada orang yang menuntut. Tersangka/tergugat/terdakwa menuntut balik agar penegak hukum/penuntut tersebut diinterogasi hipnosis, maka apakah anda yakin mereka akan benar-benar bersih terhadap masalah hukum? Banyak pasal dalam Undang – undang yang bisa dikenakan kok, lolos pasal satu cari pasal lain, cari juncto-nya juga kali.

    Akhirnya penuntut, penegak hukum, tersangka/tergugat/terdakwa semuanya masuk penjara donk..

 

 

Sekian wacana pribadi ini, pendapat pakar hukum dan psikolog hukum sangat dibutuhkan dalam konsep ini.

 

 

Written by Niko Rusmedi

GB us

About nikorusmedi

Apoteker, PNS, realistis, simpel tapi juga bisa amat ribet, pragmatis, penuh pengharapan (karena pengharapan suatu saat nanti semua keluarga dan orang yang aku kenal dapat berkumpul dalam kerajaan Sorga :) , dsbnya (udah aja deh daripada mulai ribet :p).

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

NIKO RUSMEDI

BUSSINESS LINK :

Cutieline-shop

Archives (Arsip)

Blog Stats (Jumlah Pengunjung)

  • 49,596 hits

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 2 other followers

%d bloggers like this: