>
you're reading...
Uncategorized

Reaksi Obat Yang Tidak Dikehendaki


 

Berikut ini adalah sebagian tulisan/materi yang pernah saya jadikan bahan ajar :

”Jika dikatakan bahwa suatu obat tidak menunjukkan efek samping, maka terdapat dugaan kuat bahwa obat tersebut juga tidak mempunyai efek utama” (G. Kuschinsky). Reaksi obat yang tidak dikehendaki didefinisikan sebagai respon terhadap suatu obat yang berbahaya dan tidak diharapkan serta terjadi pada dosis lazim yang dipakai oleh manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis maupun terapi. Reaksi obat yang tidak dikehendaki ini dapat berupa kontraindikasi maupun efek samping obat (adverse drug reactions). Reaksi obat yang tidak dikehendaki ini dapat muncul dari faktor tenaga kesehatan, kondisi pasien maupun obat itu sendiri.

 

Kontraindikasi adalah efek obat yang secara nyata dapat memberikan dampak kerusakan fisiologis atau anatomis secara signifikan, memperparah penyakit serta lebih lanjut dapat membahayakan kondisi jiwa pasien. Pemberian obat – obatan yang dikontraindikasikan pada kondisi tertentu ini harus dihindarkan atau di bawah penanganan khusus. Dalam beberapa hal kontraindikasi juga dianggap merupakan bagian dari efek samping obat.

Sebagai contoh asetosal dikontraindikasikan pada anak di bawah 12 tahun, ibu hamil dan menyusui karena sifat antiplateletnya (antitrombosit); atau timbulnya stroke hemorragik pada penderita selesma yang juga hipertensi tingkat berat setelah diberi obat selesma yang berisi fenilpropanolamin.

 
Efek samping obat adalah efek yang tidak menjadi tujuan utama pengobatan (efek sekunder), namun efek ini dapat bermanfaat ataupun mengganggu (merugikan) tergantung dari kondisi dan situasi pasien. Pada kondisi tertentu, efek samping obat ini dapat juga membahayakan jiwa pasien. Efek samping obat ini pada dasarnya terjadi setelah pemberian obat tersebut, yang kejadiannya dapat diramalkan atau belum dapat diramalkan sebelumnya. Sebagai contoh, penggunaan kortikosteroid (deksametason) dalam waktu lama dapat menimbulkan efek moonface dan peningkatan nafsu makan.

 

Beberapa faktor penyebab yang dapat menimbulkan kontraindikasi (atau menimbulkan efek samping obat) adalah :

  1. Usia pasien (misalnya, anak di bawah < 2 tahun atau lansia > 65 tahun).
  2. Kondisi penyakit tertentu pada pasien (misalnya, kerusakan fungsi hati dan ginjal).
  3. Reaksi hipersensitivitas (alergi) terhadap obat tertentu.
  4. Interaksi membahayakan dengan senyawa kimia atau obat – obatan lain.
  5. Kondisi hamil dan menyusui.
  6. Perbedaan ras dan genetika.
  7. Jenis kelamin.
  8. Polifarmasi (pengobatan yang tidak rasional).

 

Identifikasi reaksi obat yang tidak diinginkan harus mengacu kepada faktor – faktor penyebab tersebut di atas. Identifikasi reaksi obat yang tidak dikehendaki ini dapat diperoleh atas dasar laporan dari pasien ataupun kondisi nyata yang ditemukan oleh petugas kesehatan di lapangan.

Kriteria untuk mengidentifikasi reaksi obat yang tidak dikehendaki (apabila sudah terjadi efek samping) ini adalah :

  1. Waktu.
    Kapan kejadian tersebut muncul? Apakah terjadi sesaat setelah minum obat ataukah berselang dalam waktu yang lama? Apakah reaksi tersebut terkait dengan pemakaian obat?
  2. Dosis.
    Apakah dosis yang diberikan kepada pasien dengan kondisi tertentu terlalu besar?
  3. Sifat permasalahan.
    Apakah ciri – ciri reaksi obat yang tidak diinginkan tersebut sama dengan sifat farmakologis obatnya? Adakah kemungkinan interaksi obat?
  4. Pengalaman.
    Apakah reaksi yang muncul tersebut mirip dengan reaksi yang pernah dilaporkan dalam pustaka atau literatur?
  5. Penghentian keterulangan.
    Apa yang terjadi apabila pemakaian obat dihentikan? Bagaimana jika di suatu hari kelak obat yang menimbulkan reaksi yang tidak dikehendaki tersebut digunakan kembali, apakah reaksinya muncul kembali?

 

Pencegahan reaksi obat yang tidak dikehendaki ini dapat melalui cara sebagai berikut :

  1. Jangan menggunakan obat bila tidak diindikasikan dengan jelas. Jika pasien sedang hamil, jangan    gunakan obat kecuali benar – benar diperlukan.
  2. Alergi dan idiosinkrasi merupakan penyebab penting reaksi obat yang tidak dikehendaki. Tanyakan pasien apakah pernah mengalami reaksi sebelumnya atau dengan mengecek riwayat penyakitnya.
  3. Tanyakan kepada pasien jika sedang menggunakan obat – obat lainnya termasuk obat yang dipakai sebagai swamedikasi (self medication), karena dapat terjadi kemungkinan interaksi obat.
  4. Usia dan penyakit hati atau ginjal dapat mengubah metabolisme dan ekskresi obat, sehingga diperlukan dosis yang lebih kecil. Faktor genetik juga mungkin terkait dengan variasi kecepatan metabolisme, termasuk isoniazid dan anti depresan (trisiklik).
  5. Resepkan obat sesedikit mungkin dan berikan petunjuk yang jelas kepada pasien lanjut usia dan pasien yang kurang memahami petunjuk yang rumit.
  6. Jika memungkinkan, gunakan obat yang sudah dikenal. Penggunaan obat baru perlu waspada akan timbulnya reaksi obat yang tidak dikehendaki atau kejadian yang tidak diharapkan.
  7. Jika kemungkinan terjadinya reaksi obat tak dikehendaki cukup serius, pasien perlu diperingatkan.

 

Mengatasi munculnya efek samping obat dapat menggunakan prinsip farmakoterapi yang rasional yaitu M – 5 dan 4T + 1W. Prinsip M – 5 terdiri dari :

  1. Mengenali gejala – gejala dan tanda – tanda penyakit.
  2. Menegaskan dianosis penyakit.
  3. Memilih tatalaksana terapi (non – farmakologik, farmakologik, gabungan non – farmakologik dan farmakologik).
  4. Memilih dan menetapkan produk obat.
  5. Memantau dan mengevaluasi output pengobatan.

Prinsip 4T + 1W meliputi :

  1. Tepat indikasi –> obat yang akan digunakan didasarkan pada diagnosis penyakit yang akurat.
  2. Tepat penderita –> tidak ada kontraindikasi dan atau kondisi khusus yang memerlukan penyesuaian dosis dan atau kondisi yang mempermudah timbulnya efek samping.
  3. Tepat obat  –>  pemilihan obat didasarkan pada pertimbangan nisbah/rasio keamanan – kemanjuran di antara obat yang ada.
  4. Tepat dosis dan cara pemberian –>  takaran, jalur pemberian, waktu dan lama pemberian (lama pemakaian) tergantung kondisi penderita.
  5. Waspada terhadap efek samping obat.

 

Langkah – langkah prosedural untuk dapat mengatasi kemungkinan memburuknya efek samping obat sedangkan pengobatan harus tetap dilakukan adalah :

  1. Analisa manfaat – resiko, bila terpaksa digunakan, hendaknya manfaat yang ingin dicapai lebih besar daripada faktor resiko.
  2. Penyesuaian dosis.
  3. Pengaturan waktu pemberian obat.
  4. Lama pemberian/pemakaian oleh pasien.      
  5. Pemantauan kondisi pasien secara intensif (pemantauan kadar obat dalam darah).
  6. Menggunakan varian atau derivat obat lain yang yang lebih aman, tetapi memiliki khasiat dan efek farmakologis yang serupa.
  7. Penanganan kedaruratan (misalnya pada syok anafilaksis, peningkatan toksisitas).
  8. Penggunaan obat – obatan lini pertama dapat memperkecil resiko terjadinya efek samping, misalnya yang ada dalam Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN).

 

Semoga bermanfaat dan komentar para rekan sejawat kesehatan maupun awam (pengamat dunia kesehatan) sangat dibutuhkan apabila ada poin-poin di atas yang kurang tepat.

 

By : Niko Rusmedi, Apt.

 

About nikorusmedi

Apoteker, PNS, realistis, simpel tapi juga bisa amat ribet, pragmatis, penuh pengharapan (karena pengharapan suatu saat nanti semua keluarga dan orang yang aku kenal dapat berkumpul dalam kerajaan Sorga :) , dsbnya (udah aja deh daripada mulai ribet :p).

Discussion

4 thoughts on “Reaksi Obat Yang Tidak Dikehendaki

  1. Trus giman caranya mengatasi pipi yg moonface akibat pngruh obat2an kortikosteroid it ap bs d’atasi pipi yg bngkak it ap bs kcil kmbli,,memgny pipi yg moonface it brti trtmpuk cairan ato gmna seh??mhon jln klwrny ato solusiny sp tw anda yg mnulis artikel ne jg bs mmbr solusi trkait mslh dlm tulisn nei

    Posted by Tya | October 19, 2012, 20:28
    • Tulisannya susah dibaca dik, masih sekolah ya.

      Kortikosteroid tidak dianjurkan untuk pemakaian jangka panjang (idealnya 3 hari dan tidak lebih dari 2 minggu), kecuali dalam pengawasan khusus, terutama untuk penyakit-penyakit yang membutuhkan kortikosteroid jangka panjang.

      Solusi mengatasi moonface :
      1) Hentikan pengunaan kortikosteroid secara bertahap dengan pengurangan dosis sampai akhirnya benar – benar berhenti, terutama apabila sedang menggunakan kortikosteroid dalam jangka panjang (sesuai petunjuk dokter anda).
      2) Pengaturan pola makan dengan diet terkontrol terhadap asupan glukosa (gula), lemak, dan garam – garaman.
      3) Olahraga ringan mungkin sedikit membantu untuk mengurangi deposit lemak di wajah akibat kortikosteroid, bila perlu olahraga wajah yaitu tertawa.
      4) Gunakan kortikosteroid dengan potensi glukokortikoid rendah misalnya Prednison, Triamsinolon, atau Metil Prednisolon (tentunya dengan berkonsultasi dengan dokter anda dengan pertimbangan rasio manfaat vs resiko).

      Semoga bermanfaat.

      Posted by nikorusmedi | October 22, 2012, 00:07
  2. bagaimana dengan pemakaian obat yang bisa langsung menyembuhkan penyakit yang di derita pasien? pertama pasien ini usianya kurang dari 2 th, indikasi dokter typus. setiap kali bermain ia tidak mengalami gejala aneh, tetapi saat tidur ia mengalami panas tinggi yang dilakukan ibunya menurut petunjuk dokter menidurkannya tanpa selimut, dan menggalkan pakaian luar hingga tubuhnya dingin, karena jika di selimut dia step. lalu hanya dengan meminum racikan dari dokter itu saja demamnya langsung turun, apa itu efek dari bom penyakit atau lebih ke sugesti dokter ke pasien, kalau di lihat kasian anaknya tambah masuk angin dan sistem pemberian obat minum yang dilaukankepada anak dengan paksa apa tidak mengganggu kondisi mental anak ? terima kasih sebelumnya, jawaban anda dapat saya samapaikan kepada orang tua anak tersebut.

    Posted by sean | March 19, 2016, 07:02
    • Ini jawaban sepengetahuan saya sebagai Apoteker.
      Masyarakat Indonesia biasanya mengasosiasikan demam thypoid dengan typus, jadi saya berasumsi yang anda maksud adalah thypoid.
      Saya tidak mengetahui apakah diagnosa thypoid-nya sudah lama atau baru saja. Apabila sudah lama atau kambuhan, orang tua sebaiknya berhati-hati, lebih baik kalo memang hasil lab cek widal tinggi dan demamnya terjadi setiap malam lebih dari 3 hari dan lebih dari 38 derajat Celcius, sebaiknya anak tersebut opname saja atau bed rest atau dibawa ke dokter spesialis anak lain (second opinion).
      Apabila kurang puas bisa cek lab ulang, cek widal, cek malaria juga, kalau perlu thrombositnya juga, cek lengkap lah pokoknya.

      Soal sugesti, anak di bawah 2 tahun tidak mengenal istilah sugesti, apalagi penyakitnya infeksi, tidak ada istilah sugesti kalau soal penanganan infeksi (menurut saya), karena penyebab infeksi itu harus dibasmi.

      Pemberian obat minum (oral) adalah metode yang paling disarankan sekarang, dan apabila anak agak susah minum obat bisa diberikan dalam bentuk sirup, atau apabila dalam bentuk puyer dapat dilarutkan dalam sirup netral khusus untuk minum obat, biasanya ada dijual di apotik. Hati-hati tersedak, apabila perlawanan anak minum obat terlalu kuat.

      Sanitasi dan kebersihan juga harus diperhatikan, mulai dari bahan makanan anak, sumber air yang bersih dan dimasak (jangan pake air isi ulang murahan), peralatan makan, baju dan pakaian, serta tempat tidurnya harus dijaga kebersihannya, termasuk kondisi kamar tidur anak hindari dari kelembaban tinggi yang mengundang kuman penyakit dan jamur.
      Demikian, semoga membantu.

      Posted by nikorusmedi | March 21, 2016, 21:53

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

NIKO RUSMEDI

BUSSINESS LINK :

Cutieline-shop

Archives (Arsip)

Blog Stats (Jumlah Pengunjung)

  • 49,596 hits

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 2 other followers

%d bloggers like this: