>
you're reading...
Uncategorized

Pertumbuhan Peradaban Modern VS Ketersediaan Energi dan Mineral


[Saya bukan ahli bidang energi maupun ekonomi, tapi saya coba menulis berdasarkan cara pandang awam serta terbuka untuk diskusi, saran, ralat, dan jawaban atas pertanyaan saya]

Petro-dollar

 

Pertumbuhan peradaban modern tampak diukur dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi suatu negara, perlombaan pembangunan gedung pencakar langit, kekuatan militer, pertumbuhan kendaraan bermotor, tingkat pertumbuhan ekonomi, GDP (Gross Domestic Product), GNI (Gross National  Income) atau pendapatan per kapita, pelayanan kesehatan, usia harapan hidup, dan sebagainya.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi seperti di Indonesia ini pasti butuh energi yang lebih besar, tapi kita justru sering defisit energi baik BBM maupun listrik.

 

Di sisi lain, pertumbuhan peradaban modern tersebut ditopang oleh peralatan – peralatan/mesin canggih yang serta merta pasti membutuhkan energi listrik, bahan – bahan mineral, dan sudah pasti minyak yang kebanyakan adalah sumber energi yang tidak bisa diperbaharui atau tidak bisa di daur ulang. Karena itu perburuan sumber – sumber energi dan mineral begitu masif dan terhindarkan sekarang seiring bertambahnya jumlah umat manusia yang tergantung dengan sumber energi tersebut. Begitu menguntungkah sumber – sumber energi untuk menggerakan pertumbuhan ekonomi, sehingga transformasi ke energi yang lebih efisien sepertinya agak lambat?

Grafik Tren Energi Dunia 2008 – 2035

Grafik tersebut menunjukkan sampai tahun 2035, batu bara masih menjadi primadona sumber energi. Sedangkan penggunaan energi nuklir kemungkinan akan trennya akan menurun mengingat Jerman akan melakukan penghentian aktivitas reaktor nuklirnya sampai 2022 dan menyusul juga Jepang sampai 2030 (bagaimana kah rencana kebutuhan energi listrik kedua negara industri terkemuka ini ke depannya? Indonesia harus belajar dari strategi energi mereka). (Link : Disini dan disini).

 

 

Mineral

Kembali ke batu bara, siapakah penghasil batu bara terbesar?

Top Coal Exporters 2004

Pada tahun 2004, Cina merupakan negara penghasil batu bara terbesar, namun hanya ada di urutan ke – 3 sebagai negara pengekspor terbesar sesudah Australia dan Indonesia yang produksinya jauh di bawah Cina. Hal ini menunjukkan rasio antara penggunaan dalam negeri dan yang dieskpor masih lebih baik, sedangkan negara kita tampaknya lebih mengejar ekspor, padahal di negara sendiri sedang kekurangan energi.

 

Top Coal Exporters 2009

Top Coal Exporters and Importers 2009

Pada tahun 2009, Indonesia masih berada di peringkat ke-2 sebagai pengekspor batu bara dunia, sedangkan Cina (raksasa ekonomi baru) menghilang dari peringkat top exporters tersebut, dan justru malah menjadi negara pengimpor batu bara terbesar sesudah Jepang. Apakah Cina sudah kehabisan sumber batu baranya atau sebaliknya ini strategi mereka untuk menyimpan cadangan energi batu bara mereka atau mereka hanya memprioritaskan konsumsi dalam negeri?

 

Dari grafik, tampak juga negara dengan peradaban maju juga pengimpor bahan baku mineral terbesar.

 

 

Minyak bumi

Bagaimana dengan minyak bumi?

Top Oil Importers 2011

Top Oil Exporters 2011

Tampak sekali negara – negara maju dan negara berpenduduk terbanyak pasti membutuhkan energi yang lebih besar. Indonesia sebagai negara dengan proyeksi tingkat pertumbuhan ekonomi ± 6 %/tahun dan penduduk terbanyak ke – 4 di dunia ternyata tidak masuk peringkat top exporters dan top importers. Apakah kita belum memiliki strategi yang bagus untuk urusan minyak ini atau produksi dalam negeri sudah mencukupi kebutuhan nasional?

Bandingkan pada tahun 2010, GNI Indonesia : GNI India = US$ 2.580 : US$ 1.340, tampaknya ini bukan masalah daya beli lagi. (Link : disini).

 

Yang ironisnya, Kalimantan sebagai salah satu penghasil batu bara terbesar di Indonesia justru sering mengalami krisis listrik pemadaman bergilir bahkan di ibukota – ibukota propinsinya, banyak desa – desa yang tidak teraliri arus listrik sementara di seberangnya memancar cahaya terang – benderang dari pertambangan dan stockpile yang merusak ekosistem. Adil kah ini? Tidak ekonomis atau bakal merugikah negara bila membangun pembangkit listrik skala besar di Kalimantan yang wilayahnya luas dan penduduknya sedikit bila dibanding pulau lain dan industrinya masih berskala kecil?
Begitu juga dengan infrastruktur dan minyak pun mungkin hanya dapat prioritas nomor ke sekian puluh.

[Menurut saya, supaya terasa adil dan ekonomis bagi negara, sebenarnya bisa membangun pembangkit listrik berdaya raksasa (yang non nuklir) di sepanjang pesisir selatan dan timur Pulau Kalimantan, kebutuhan listrik Kalimantan jadi prioritas, kemudian kelebihan listriknya dialirkan ke pulau – pulau lain lewat kabel bawah laut. Tidak sulit bukan, selama batu bara diprioritaskan untuk konsumsi dalam negeri. Tidak setuju? Coba aja pikirkan bagaimana rasanya ketika pulau tempat tinggal tanah leluhur anda diobrak-abrik, sudah lupa ya rasanya jaman penjajahan dulu?]

Batu bara Kalimantan

Batu bara Kalimantan

 

 

Harapan Energi Terbaharukan di Masa Datang

Hidrogen merupakan salah satu harapan energi di masa datang, selain lebih efisien, juga ramah lingkungan dan bisa terbaharukan. Elektrolisis air merupakan salah satu cara untuk memperoleh hidrogen dengan reaksi umumnya 2H2O —> H2 + 2O2.

Water Electrolysis

Anoda (kutub negatif) : 2H2O (liq) → O2(gas) + 4H+(ion) + 4e(ion).

Katoda (kutub positif) : 4H+ (ion) + 4e (ion) → 2H2(gas).

 

Hidrogen dalam wujud gas sangat mudah terbakar dan mungkin lebih aman bila disimpan dalam bentuk hidrogen cair atau dalam bentuk baterai (hydrogen peroxide fuel cell). NASA (The National Aeronautics and Space Administration) telah menggunakan hidrogen cair ini sejak 1970-an sebagai bahan bakar pendorong jet – jet mereka ke angkasa. (Link : NASA1 dan NASA2).

 

Namun yang mengherankan, mengapa konversi penggunaan hidrogen cair ini ke mesin – mesin industri, pembangkit listrik, atau kendaraan bermotor sangat lambat sekali? Sama seperti pertanyaan sebelumnya, apakah proyek konversi ini tidak menguntung bagi pertumbuhan ekonomi (kurang menambah income dibanding bisnis pertambangan batu bara dan minyak bumi), atau karena teknologinya mahal dan sulit, atau hanya karena teknologi belum matang untuk diproduksi masal, atau takut kehilangan kontrol atas perpolitikan dunia?

 

“Barang siapa yang pada masa kini menguasai sumber – sumber energi dan teknologinya, maka dialah pemegang kontrol politik dunia.”

 

“Pada setiap jaman, umat manusia akan menemukan solusi sebagai jawaban permasalahannya, termasuk soal energi dan sintesis mineral yang dapat diperbaharui.”

 

Terang tidak akan kalah oleh gelap, namun semua terang membutuhkan energi.

About nikorusmedi

Apoteker, PNS, realistis, simpel tapi juga bisa amat ribet, pragmatis, penuh pengharapan (karena pengharapan suatu saat nanti semua keluarga dan orang yang aku kenal dapat berkumpul dalam kerajaan Sorga :) , dsbnya (udah aja deh daripada mulai ribet :p).

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

NIKO RUSMEDI

BUSSINESS LINK :

Cutieline-shop

Archives (Arsip)

Blog Stats (Jumlah Pengunjung)

  • 49,596 hits

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 2 other followers

%d bloggers like this: